Free Thoughts · Parenting and Kids

Candles For Humanity

candles for humanitySaya rasanya sampai di titik muak membaca berita-berita kejahatan di portal online. Inginnya tidak membaca karena saya yakin akan membuat perut berputar dan mual memvisualisasikan apa yang terbaca di kepala. Tapi sisi lain, saya ingin membaca supaya saya setidaknya bisa membekali diri sendiri maupun anak perempuan saya, dengan pelajaran dibalik semua kejadian buruk tersebut. Continue reading “Candles For Humanity”

Free Thoughts

MERAYAKAN HARI BLOGGER NASIONAL

Bloggerday

Hari ini adalah Hari Blogger Nasional, yang pertama kali dicanangkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, pada tanggal 27 Oktober 2007. Tahun ini dirayakan dengan penyelenggaraan Bloggercamp serentak di beberapa kota. Walaupun saya jauh dari kemeriahan perayaan, tapi saya ikut mendoakan kelancaran untuk acara tersebut, dan setia mengikuti live tweet teman-teman yang menjadi peserta via twitter. Continue reading “MERAYAKAN HARI BLOGGER NASIONAL”

Contests · Free Thoughts

MENGEJAR KETERTINGGALAN

Saya tahu saya suka menulis sejak duduk di bangku SMP. Sementara teman-teman saya kesulitan dalam mengerjakan tugas mengarang, saya sebaliknya. Saya senang sekali kalau guru Bahasa Indonesia memberi tugas itu. Dan di beberapa kesempatan, tugas saya menjadi salah satu yang terbaik di kelas. Kegiatan menulis setelah itu cuma berkutat di sekolah, tidak pernah secara serius didalami. Di umur ABG labil seperti itu, tidak ada niat atau tuntunan yang membuat saya mengasah kemampuan menulis. Jadi, ya begini-begini sajalah. Continue reading “MENGEJAR KETERTINGGALAN”

Free Thoughts

Maaf

im-sorry

Kata yang kalau dipikir-pikir, mungkin percuma saat diucapkan, karena semua sudah terlanjur terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mencegah sesuatu yang seharusnya tidak perlu terjadi. Ya, yang seharusnya mungkin tidak perlu terjadi.

Membaca situasi dengan pintar memang tidak ada rumus bakunya. Kebiasaan, pikiran yang sehat, ataupun kejelian menjadi modal bagaimana kita pintar menjaga tutur dan ucap pada sebuah keadaan. Mungkin hanya sekedar bercanda, melontarkan apa yang terlintas di kepala, atau bahkan tanggapan dangkal makna. Tapi semua bisa runyam kalau kita tidak pintar-pintar membaca suasana. Tidak perlu banyak ketrampilan sebenarnya, hanya perlu memilah apa yang akan diucap.

Kata maaf boleh jadi percuma atau bisa jadi tak bermakna, tapi bukankah dampak ‘aftermath’ adalah justru yang terparah. Maaf bisa jadi kata untuk meredam emosi bagi orang yang terdampak, juga bisa mengurangi beban yang menyumbat dada bagi orang yang memberi dampak, serta adalah awal untuk pintu perbaikan Ibarat bencana alam yang meluluhlantakkan bumi, maaf adalah posko. Sebuah tempat dimana yang bertahan, tersisa, dikumpulkan dan bangkit dari apa yang dilewati Maaf bukanlah tanpa makna. Maaf adalah awal kebangkitan. Awal perubahan menjadi lebih baik, untuk bangkit dari keterpurukan.

Rumah, 18 Januari 2015

Free Thoughts

Real World vs Cyber World

Saya yakin, bukan cuma saya sendiri, ketika membaca dinding Facebook, atau menjelajah linimasa Twitter, suka merasa iri dengan kehidupan orang lain. Foto tempat-tempat indah yang dikunjungi, kemesraan keluarga dan pasangan, atau juga foto makanan-makanan super menggiurkan. Dulu, saya pun rajin mengisi laman FB dengan kegiatan sehari-hari yang berkesan, foto anak yang mengagumkan, dan atau cuma sekedar menuliskan beberapa kata bermakna. Tapi, itu dulu. Entah sudah sejak berapa lama yang lalu saya berhenti mengupdate laman FB saya. Saya hanya menjadi pembaca status, dan kadang berkomentar sedikit, sedikit sekali.

Saya berpikir apa yang orang tulis di status atau di laman sosial media itu belum tentu menggambarkan kehidupan orang itu yang sebenarnya, atau saya yang merasa tidak perlu tahu detail tentang kehidupan orang lain. Well, this is strictly my opinion. Tapi, sekedar menjadi pembaca status, membuat saya memandang hidup jauh lebih positif. Membagi hal positif saya rasa jauh lebih penting ketimbang mempertontonkan kehidupan kita sehari-hari di media sosial. Status yang dalam bermakna, atau informasi berguna, tentu akan lebih bermanfaat daripada sekedar memamerkan setiap detik kehidupan yang terjadi di dunia nyata.

Laman media sosial untuk saya, dapat digunakan untuk kepentingan lebih besar untuk pengembangan diri sendiri. Menemukan blog tentang kehidupan seorang perempuan dan anaknya dengan HIV, membaca betapa kuatnya perjuangan seorang anak melawan kanker, tulisan tentang perjuangan kehidupan rumah tangga yang berantakan dan juga bahagia, pengalaman homeschooling, buat saya pribadi adalah beberapa hal besar yang patut di bagi di dunia maya, sehingga boleh menjadi referensi hidup sehingga dampak dunia maya benar-benar dirasakan di hidup nyata saya.

Tapi, kembali lagi, setiap orang punya pandangan dan pendapat sendiri. Banyak juga orang yang tidak tahu beretika di dunia maya, menggunakan dunia maya untuk sekedar sembunyi dari kehidupan nyata, dan lebih buruk ketika melakukan kejahatan yang terinspirasi dari betapa mudahnya mendapat informasi tentang seseorang dari laman sosial medianya.

Menjadi bijaklah kita, supaya boleh kita menjadi lebih kaya hati.

 

Home, 14 November 2014