Uncategorized

Friendship for Eternity: A Note for A Wonderful Friend

friendship
Ketika kabar duka datang menghampiri, hati rasanya langsung turun ke kaki. Lemas badan dan pikiran, serta memori dan berbagai kenangan berdatangan satu per satu. Jumat lalu, 4 November 2016, seorang sahabat kami pergi meninggalkan dunia fana. Di tengah gencarnya topik pembicaraan tentang demo di Jakarta, sang sahabat berjuang melawan sakit jantung yang beberapa hari sebelumnya terdeteksi di Lampung, kampung halaman saya. Ketidakmampuan tubuh mengolah obat-obatan yang diberikan, dan memang panggilan Tuhan yang tak lagi terhindarkan, sahabat kami pergi.

Ia adalah teman baik untuk teman-temannya. Kebetulan saya satu sekolah dengan beliau dari SD, SMP, sampai SMA. Dari perjalanan pertemanan  saya, teman-teman SMP adalah teman-teman yang masih lekat dan terasa dekat sekali pertemanannya sampai sekarang. Waktu dan ruang sudah membawa kami ke tempat yang berbeda-beda. Menjalani jalan hidup dan cerita yang ditulis masing-masing. Ada yang menjadi dokter, ada yang menjadi PNS, ada yang menjadi ibu rumah tangga, ada yang menjadi pengusaha, ada yang jadi aktor, ada yang jadi sales, menjadi apapun yang teman-teman jalani sekarang, tetapi rupanya selama kami berteman di rentang waktu SMP, kenangan-kenangan yang terjadi dan dibuat memang membekas sekali di hati.

alumni-xavepanKami sering sekali naik gunung dan main ke laut. Panjang, adalah kota di pinggir laut, serta memiliki bukit yang cukup menantang untuk ukuran anak baru gede seumur kami dulu. Banyak teman-teman yang memang rumahnya di kaki gunung, sehingga kami bisa beramai-ramai mengambil jalur gunung untuk mencapai lokasi pantai kesukaan kami. Berenang, mengobrol, ngerujak, semua dilakukan tanpa beban. Kami juga sempat pergi kemah, dengan swadaya, sampai diboikot oleh pihak sekolah karena kegiatan ini, alasan tepatnya saya lupa. Tapi kami tetap berangkat. Belum lagi ditambah cerita di kelas ketika pelajaran matematika yang hampir setengah kelas berdiri di depan karena tidak ada yang bisa mengerjakan soal, dan semua cerita kebandalan dan kebersamaan kami selama di sekolah. Ada sekitar 15-20an orang yang boleh dibilang dekat, dan sahabat yang meninggal ini adalah salah satu dari kami. Kami rasanya masih tidak percaya dengan kejadian yang begitu cepat ini. Masih teringat jelas kenangan-kenangan itu menjadi slide di kepala kami. Ah, begitu cepat kamu dipanggil pulang, sahabat.

Saya berinisiatif membuat grup WA untuk mengkoordinasi apa yang bisa kami lakukan. Teman-teman yang berada di luar Lampung bergandengan tangan dan bersinergi dengan teman-teman yang masih ada di Lampung, kami mau berikan salam perpisahan, mengucap selamat jalan untuk terakhir kalinya. Dan kesedihan pun masih terasa hingga hari ini, Minggu, 7 November 2016, ketika foto pemakaman dibagikan di grup.

Dan, kamipun saling bertukar cerita, saling menguatkan, saling mengingatkan, saling mendoakan. Semoga kami bisa mengambil pelajaran, menjaga tubuh dengan lebih baik, supaya menghabiskan waktu berkualitas lebih banyak dengan orang-orang terkasih, dan juga meningkatkan amal baik untuk bekal nanti.

Yamura Mala

Teruntuk sahabat kami terkasih, Yamura Mala S. Simanjuntak.

Cerita yang kita buat begitu indah tersimpan di kepala
Biar kenangan atas kebaikanmu, keceriaanmu, kepintaranmu, kelucuanmu
Dan semua tentangmu menjadi salah satu episode terbaik dalam hidup kami

Biarlah engkau mendapat tempat yang terbaik di sisi Sang Pemilik Hidup
Lihat kami dari jauh, sahabat…
Sampai kita bertemu kembali..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s