Free Thoughts · Parenting and Kids

Candles For Humanity

candles for humanitySaya rasanya sampai di titik muak membaca berita-berita kejahatan di portal online. Inginnya tidak membaca karena saya yakin akan membuat perut berputar dan mual memvisualisasikan apa yang terbaca di kepala. Tapi sisi lain, saya ingin membaca supaya saya setidaknya bisa membekali diri sendiri maupun anak perempuan saya, dengan pelajaran dibalik semua kejadian buruk tersebut.

Peristiwa kejahatan terhadap perempuan, baik dewasa maupun anak-anak sekalu membuat saya merasa terhubung. Emosi dan perasaan yang biasanya ikut membanjiri diri ketika membaca berita-berita buruk yang terjadi membuat nurani menjadi begitu terenyuh. Belakangan makin marak berita pemerkosaan dan disertai dengan pembunuhan. Tak sampai hati rasanya saya membaca detail dan runut yang dituliskan. Saya seketika menjadi ngeri. Apa jadinya sudah dengan dunia dan kemanusiaan?

Dari sisi korban, saya selalu tidak bisa membayangkan sedikitpun apa yang dirasa oleh orang tua korban, karena saya juga memiliki anak perempuan. Menerima kenyataan bahwa anak yang disayang-sayang, dijaga-jaga dari bayi, harus direnggut dari dekapan kita dengan cara yang teramat keji dan brutal. Kehilangan dengan cara yang wajar pun sudah tak terperi rasa sakitnya, apalagi dengan cara demikian. Sungguh saya tak mampu sedikitpun berani membayangkan. Sakit dan nelangsa sebagaimana sudah tak lagi dapat diungkapkan. Berserah dan menerima apa yang sudah menjadi garis jalan hidup dari Sang Pemilik Hidup hanya yang bisa dilakukan. Menguatkan iman dan diri supaya masih terdapat tenaga tersisa untuk tetap melangsungkan hidup dengan luka sedemikian besar.

Dari sisi pelaku, saya pun mendapatkan kejutan dengan pola yang berulang dari kejadian pemerkosaan belakangan ini. Seingat saya, beberapa tahun lalu ketika saya masih merasa kejadian ini begitu jauh dari saya, pelaku adalah pria dewasa, tapi belakangan pola yang terlihat adalah pelaku bergeser menjadi anak remaja bahkan anak-anak! Betapa sedih hati membaca bahwa pelaku pemerkosaan ada yang baru berumur 9 tahun! Bayangkan. 9 tahun. Dunia sudah gila. Hal ini pun membuat miris hati saya. Bertanya-tanya sendiri, apa perasaan orang tuanya, karena saya yakin perbuatan begini pasti ia tutupi rapi dari keluarga, atau bahkan terlewat dari lingkup jaga orang tua. Terpuruknya orang tua mengetahui anak yang dilahirkan,dijaga, dan dididik, bisa melakukan hal begini bejat. Perasaan gagal menjadi orang tua, pertanyaan apa yang salah dengan pola asuh, murka, sedih, sekaligus malu, menggelayuti diri bukan hanya sementara, tapi permanen.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Bagaimana kita sebagai orang tua menyikapi kejadian-kejadian buruk ini? Saya pribadi, setidaknya akan mengambil pelajaran penting dari semua ini.

  1. Saya akan menyediakan waktu lebih banyak untuk anak-anak, mulai dari sekarang. Penerapan pola asuh yang ramah anak, keterikatan batin, keterbukaan, akan menjadi usaha saya yang lebih keras lagi. Saya ingin anak-anak saya mendapatkan informasi yang tepat dari sumber yang tepat, dan saya ingin memastikan itu.

  2. Saya percaya, internet adalah dalang atau pintu masuk informasi dari semua kekacauan ini. Begitu mudahnya anak-anak terekspos dengan gambar, video, dan cerita porno. Kita tidak bisa mencegah semua itu diunggah di dunia maya, situs-situs porno yang dengan segala kecanggihan bisa mudah sekali diakses oleh anak-anak kita. Kontrol utama adalah kita, orang tua. Saya akan mulai pendidikan seks sedari sekarang. Saya akan berikan informasi sesuai dengan umurnya tentang dirinya sendiri, membangun iman anak-anak yang kokoh, senantiasa takut akan Tuhan, mengontrol ketat apa yang menjadi konsumsi tontonan serta bacaannya, mengenali teman-teman mereka, karena memang inilah usaha yang saya dapat lakukan. Hal-hal yang bisa saya kontrol sendiri, hal-hal yang bisa saya lakukan secara langsung kepada anak-anak.

  3. Saya akan terus belajar. Belajar bagaimana mendekatkan diri dan hati dengan Sang Maha Kuasa, supaya kita sendiri boleh kuat, dan diberikan kekuatan untuk mendidik anak-anak yang menjadi titipan kita ini, supaya tumbuh menjadi anak-anak terang, anak-anak yang selalu berada dalam lindungan-Nya, dan dijauhkan dari segala yang jahat.

Berdoa dan membekali diri dengan pengetahuan dan hati yang mumpuni adalah usaha terbaik kita sebagai orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan hal-hal baik yang terjadi untuk anaknya. Membekali mereka dengan amunisi yang kuat untuk menghadapi dunia adalah warisan terbaik yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita. Jangan biarkan kita menyerahkan waktu, diri, dan pikiran kita untuk hal-hal yang kurang penting, hanya anak-anak yang bisa menjadi perpanjangan tangan kita ketika kita sudah tidak ada lagi di dunia. Hanya nilai-nilai baik yang menjadi peninggalan kita untuk mereka. Tetap berdoa dan berjuang, wahai orang tua. Berikan yang diri kita sepenuhnya untuk mendampingi mereka, sebelum terlambat.

Rumah, 19 Mei 2016

Advertisements

3 thoughts on “Candles For Humanity

  1. Berusaha sedini mungkin memberi pemahaman thd anak-anak & remaja bgm melindungi diri, itu perlu kita upayakan bersama
    Ortu, pendidik, institusi agama & pemerintah idealnya bekerja sama

    Like

  2. Memang berat ya tugas sebagai orangtua, bagaimana agar anak bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah… Semoga Susan dan keluarga dilindungi selalu ya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s