Cerita Rumah · Parenting and Kids

Mengajak Anak Bersyukur

PicsArt_02-29-02.02.30

Abby : “Enakan aja kita rumahnya di Royal, biar deket sama Maureen. Aku suka rumah di sana keren…”
Mama: “Mama suka di rumah kita aja. Abby tau nggak ada orang yang nggak punya rumah, tinggalnya di gerobak?”

A : “Aku nggak mau makan pake ayam, Ma. Maunya pake sayur..”
M : “Makan yang mama sediain, Bi. Abby tau nggak di luar sana ada orang yang mau makan tapi nggak ada uang beli nasi..”

A : “Aku mau kasur yang lama aja. Yang ini nggak enak kayaknya…”
M : “Kasur lama sudah kita kasihkan ke orang lain. Abby tau nggak ada orang yang tidurnya di depan toko, cuma pake kardus doang alasnya…”

Itu percakapan saya dan Abby dalam waktu berlainan tapi masih dalam rentang yang belum begitu lama. Belakangan komplen-komplen ‘enteng tapi nyesek’ seperti ini banyak dilontarkan Abby, biasanya datang tiba-tiba saja, pada saat handukan setelah mandi, atau ketika tukar pakaian sebelum tidur. Mungkin dia tidak bermaksud komplen, cuma sekedar mengungkapkan apa yang terlintas di kepalanya. Tapi, saya yang mendengar merasa sedikit terganggu…merasa ‘Kok ini anak nggak bersyukur banget yak? Dia gak tau apa kalo rumah kecil ini cicilannya sampe dia SMP…’.
Laahh jelas aja dia gak tau!!
Dan disitu saya merasa saya yang terlalu sensitif atau baper istilah jaman sekarang.

Lalu, saya berkaca pada diri sendiri… apa yang sudah saya ajarkan kepada Abby tentang bersyukur. Tentu saja anak 7 tahun belum mengerti apa artinya bersyukur jika kita orang tuanya tidak mengajari dan mengajaknya bersyukur. Saya percaya hal-hal kecil yang kita lakukan akan tertanam di kepala dan kebiasaannya. Berikut beberapa hal yang saya lakukan untuk mengajarnya bersyukur dan mengurangi komplen-nya.

1. Mengajar anak berdoa dan beribadah
PicsArt_02-29-04.02.58Yang paling utama menurut saya adalah dengan mengajar dan mendampinginya ketika berdoa dan beribadah. Setiap malam, di setiap doa sebelum tidur, saya dan Abby bergantian mengucap doa, saya selalu mengucap syukur atas hari yang sudah dilewati, dan ketika gilirannya berdoa, ia juga mengucapkan hal yang sama. Walaupun kadang doanya melantur kesana kemari, tapi semoga pengulangan rutin begini akan terus membekas di ingatannya. Begitu juga dengan kegiatan ibadah sekolah minggunya, biasanya saya bertanya tentang bacaan Alkitab hari itu, dan membahas kembali dengannya sepulang sekolah minggu. Dan menyelipkan cerita-cerita Alkitab dengan versi yang lebih mudah dimengerti olehnya.

2.   Mendonasikan mainan yang sudah tidak dimainkan.
PicsArt_02-29-04.04.51Saya beberapa kali mengajaknya memilih dan memilah mainan yang sudah tidak lagi ia mainkan. Memberitahunya mainan yang tidak lagi dimainkan akan menjadi mainan baru untuk orang-orang yang menerimanya. Walaupun agak berat hati, tapi ia berhasil memilih dan memilih dengan sedikit dorongan (baca: bujuk rayu 🙂 saya.
Memang tidak diberinya secara langsung kepada penerima hibah mainan, tapi ia mengenal Pak Taufik yang sering mengantar kami kemana-mana dengan becaknya. Kebanyakan mainan Abby saya berikan untuk anak Pak Taufik yang berumur 2 tahun lebih muda daripada Abby.

3.   Memberikan pakaian bekas layak pakainya kepada yang membutuhkan.
PicsArt_02-29-04.05.59Begitu juga dengan pakaian. Abby juga banyak mendapat lungsuran pakaian dari sepupu saya yang memang tidak beda jauh umurnya dengan Abby, sehingga biasanya jika baju lungsuran datang, saya mengurangi isi lemari Abby. Kalau soal ini biasanya saya yang memilih baju mana yang sudah tidak lagi muat untuk Abby. Saya cuma minta persetujuannya saja. Sebagian ada yang saya berikan ke Pak Taufik, dan sebagian lagi ke Novi, asisten rumah tangga saya, yang juga masih memiliki adik sebaya Abby. Pernah saya dan adik mengumpulkan pakaian bekas layak pakai ini untuk diberikan ke panti asuhan. Kami mengajak anak-anak kami berkunjung kesana, dengan menceritakan sedikit apa yang akan mereka lihat disana,  tentang apa itu panti asuhan. Ini adalah salah satu pengalaman yang sampai sekarang paling yahud untuk diingatkan kembali kepada Abby, jika komplen-komplen itu datang. Biasanya berhasil untuk membuat dia diam dan berpikir.

4. Menghabiskan makanan yang diambil
PicsArt_02-29-04.07.30Abby termasuk anak yang kurang menyukai kegiatan makan. Jarang sekali ia berinisiatif meminta makan dengan alasan lapar untuk soal makan besar (kecuali untuk mie :). Jadi, saya hanya mengambilkan sedikit nasi untuknya dan itu pun lama habisnya. Saya biasanya menceritakan betapa petani sudah berjuang menanam padi hingga bisa jadi nasi seperti yang dimakannya, jadi betapa sedihnya pak tani kalau padi yang ditanamnya hanya dibuang-buang oleh Abby. Begitu juga dengan makanan ringan lainnya, ia harus bisa menakar berapa banyak yang ia mau makan, tidak semua jajanan langsung dihabiskan. Saya rasa dengan begini ia bisa lebih mengkontrol keingingannya pada makanan kecil.

5.   Menceritakannya tentang tokoh yang bisa dijadikan panutan.
PicsArt_02-29-04.16.24Sudah saya ceritakan beberapa waktu lalu di sini kalau Abby menderita Dermatitis Atopik atau eksim yang membuat tubuhnya kadang gatal-gatal tak tertahan. Ia pernah beberapa kali bertanya kepada saya, siapa yang memberinya gatal-gatal seperti ini? Kenapa hanya dia, yang lain tidak? Jawaban saya, Tuhan yang kasih gatal-gatal ini ke Abby, supaya Abby lebih sabar, dan tidak marah-marah terus. Lalu saya menceritakan dan memperlihatkan video tentang Nick Vujicic, seorang yang lahir tanpa tangan dan kaki. Betapa Nick memberi inspirasi untuk saya maupun Abby, saya bilang kepada Abby, kalau Om Nick yang tidak punya tangan dan kaki saja bisa lakukan apapun dan senang, apalagi kita yang lengkap. Jadi, walaupun Abby diberi gatal-gatal, masih harus bersyukur punya tangan untuk menggaruk, dan ada obat untuk dimakan. Reaksinya beragam, kalau ia komplen pada saat gatal yang parah, pesan ini membal terkalahkan oleh kesalnya karena gatal. Tapi jika gatal masih dalam tahap normal, biasanya bisa mengurangi kekesalannya sedikit, sambil saya bantu mengusap badannya.

Ah, masih panjang rasanya perjuangan saya untuk membantunya tetap bersyukur dengan keadaannya sekarang,  terlebih lagi saya harus memberinya teladan dulu sebelum saya memintanya melakukan hal yang sama. Tetap semangat!

San.

Rumah, 29 Februari 2016

Advertisements

6 thoughts on “Mengajak Anak Bersyukur

  1. Mengajari anak bersyukur penting banget. Supaya mereka bisa menghargai apa yang dititipkan padanya. Keren sekali langkah-langkahnya. Bisa jadi contoh buat saya.

    Like

    1. Mba ety…iya nih..memang harus diajari sedinj mungkin. Semoga sampai besar nanti bisa jadi orang yang selalu bersyukur. Terima kasih sudah mampir ya mba..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s