Cerita Rumah · Contests

Perempuan itu bernama, Anna…

540749_10150723749684630_815274629_9294126_227000798_n

Beliau adalah sosok yang sederhana namun bersahaja. Perempuan yang bersuami seorang pensiunan pengusaha bengkel mobil ini langsung menjadi tokoh utama saya yang telat sekali mengetahui tentang Monilando’s Story: Spread the Good Story ini.

Beliau bukan orang kaya yang mentereng dengan deretan mobil dan perhiasan mahal, walaupun beliau istri pengusaha, tetapi sederhana adalah karakternya. Saya bisa menyebutkan berderet kebaikan yang dilakukan beliau tetapi saya akan berusaha fokus di peristiwa yang saya sendiri ikut menjadi saksi mata.

Tinggal di sebuah kota kecil bernama Teluk Betung di Bandar Lampung, rumahnya bersampingan dengan bengkel yang menjadi tumpuan hidup keluarganya. Keluarga itu mempunyai 4 orang anak, hanya tinggal si bungsu saja yang masih tinggal bersama dirumah yang terbilang luas itu.
Ibu Anna termasuk orang yang terkenal di daerah itu, dari tukang becak, satpam, tukang kue keliling, hingga teman kalangan atas pun beliau tanpa segan berteman. Selain beliau memang orang yang supel dan suka mengobrol, beliau memang dikenal ringan tangan, tidak sungkan membantu siapa saja yang berkesusahan.

Tidak jarang saya melihat beliau membeli dagangan tukang kue keliling yang belum habis dengan alasan kasihan. Tidak jarang juga saya melihat beliau membelikan tukang becak nasi bungkus. Menggalang dana dari teman-temannya untuk merenovasi rumah tukang air dorong keliling pun dilakoninya. Bahkan sampai anjing tak bertuan yang sakitpun dirawatnya.

Peristiwa yang akan saya tuliskan disini benar-benar menggugah hati saya, dan mempertanyakan diri saya sendiri, apakah saya sanggup melakukan hal yang sama dengan yang beliau lakukan.

Tersebutlah seorang perempuan bernama Al. Al termasuk tetangga karena Al tinggal bersama dengan keluarga kakak perempuannya bernama Bay, yang bekerja sebagai penjual pempek keliling, masih di sekitaran daerah rumah tinggal Ibu Anna. Al sejak lahir memang memiliki kekurangan, ia agak terbelakang, tapi kalau diajak bicara masih bisa nyambung. Al adalah korban kekerasan fisik sejak kecil karena keterbelakangannya itu. Saya kurang tahu cerita awal tentang orang tua Bay dan Al, tapi orang sekitar cerita bahwa Al sering disuruh minta uang ke orang-orang untuk diberikan kepada Bay dan suami, untuk sekedar membantu uang makan sehari-hari. Tak jarang Al digebuki hingga memar dan benjut oleh Bay dan kakak iparnya karena tidak bawa uang atau sekedar merepotkan mereka karena Al suka kabur dari rumah, sehingga membuat mereka harus kelimpungan berkeliling mencari Al. Dan bila bertemu, Al susah untuk diajak pulang, dan terjadilah kekerasan pada Al. Jika kebetulan Ibu Anna melihat, ia akan bersegera membela Al, dan mengusir kakak iparnya pulang. Beliau akan mengajaknya masuk ke bengkel, dan membujuknya baik-baik supaya Al mau pulang. Tampilan Al bisa dibilang seperti ‘orang gila’ yang Anda temui di jalan. Ia tidak tahu bagaimana caranya mandi, apalagi merawat tubuhnya. Al bau, kumal, rambut kusut, baju kotor, dan ringkih. Kebanyakan dari kita mungkin akan menyingkir mencari aman dan nyaman, tapi Ibu Anna mengulurkan tangannya, menyediakan rumahnya, dan menyisihkan waktu serta tenaganya untuk Al. Biarkan saya menghela nafas dan menyeka air mata saya yang tumpah sambil saya mengingat peristiwa kemanusiaan ini.

Beliau menyuruh Al untuk setiap hari ke rumahnya, ia menyiapkan Al makan siang, setiap hari.

Entah sudah berapa tahun lamanya Al tidak pernah mandi secara pantas, Ibu Anna dengan hatinya bisa membujuk Al untuk mandi dan beliau membantunya. Memotong rambut Al yang kering menggumpal dan gimbal, mencucinya dengan sampo setengah botol, mengkomando Al untuk menyabuni setiap senti tubuhnya, dan menyiapkan pakaian bersih untuknya. Hari itu Al terlihat berbeda. Al memanggil Ibu Anna dengan sebutan Cici. Jika ada orang yang mengganggunya, Al selalu bilang akan mengadukannya pada Cici.
Mulai dari hari itu, Al rutin mandi di rumah Ibu Anna. Ia mulai bisa setidaknya membersihkan dirinya sendiri.

Sekali waktu, Al tidak datang ke rumah Ibu Anna dalam beberapa hari. Seperti biasa, Al kabur dari rumah. Ibu Anna mencari tahu dan membantu mencari keberadaan Al di sekitaran sekolah Taman Siswa berdasarkan informasi yang ia dapat. Ibu Anna datang menjemputnya, tapi Al tidak mau pulang karena ia bercerita masih dipukuli oleh kakak dan kakak iparnya. Dengan bujukannya, Al akhirnya pulang.

Selang beberapa lama, Al duduk di warung dekat bengkel, terkulai, dengan diare berat. Dibawanya ke klinik dan disuruhnya Bay merawatnya di rumah dengan baik. Ibu Anna lalu pergi ke Jakarta untuk mengunjungi anaknya yang pertama. Siang itu telepon genggamnya berbunyi, suara diujung telepon memberi kabar bahwa Al sudah meninggal. Ia menyerah pada penyakit yang membawanya pergi ke tempat asal Pemilik Hidupnya. Ibu Anna segera menelpon tetangga lain yang memang juga sering membantu Al, untuk mengurus upacara pengkremasian Al. Dan Al pun dikremasi dan abunya ditebar di lautan.

Menceritakan cerita ini selalu membuat saya bergidik, mempertanyakan diri apakah diri sanggup melakukan hal yang demikian mulia seperti yang dilakukan Ibu Anna. Yang notabene adalah mama saya sendiri. Ketika kabar duka itu datang, Mama sedang berada di rumah saya. Ia menangis, sekaligus bahagia, karena ia tahu tidak akan ada lagi yang menyakiti Al, karena Sang Pemilik Hidup akan selalu menjaga Al.

Oya, salah satu cita-cita Mama adalah mendirikan sebuah panti jompo. Semoga cita-cita mulia ini bisa terlaksana, dan kalaupun tidak, saya yakin, apa yang Mama lakukan sudah membuat banyak orang terbantu, dan banyak hati bersyukur. Tuhan selalu lindungi Mama.

Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s Giveaway: Spread The Good Story.

Monilando's

Advertisements

10 thoughts on “Perempuan itu bernama, Anna…

  1. salut bgd mbk bwt rasa kasih sayang dan kepedulian bundanya mbak atas al. al sdh senang di sana ya mbk, smoga keluarga al mengambil pelajaran atas meninggalnya al, amin

    Like

  2. Aamiin.. semoga cita2 beliau terwujud ya mba.. dan kebaikan beliau mendapatkan balasan berlipat..

    Makasih banyak ya mba Susan sudah ikutan dan berbagi kisah baik ini.. salam kenal ya mba

    Mohon maaf br sempet online blog dan berkunjung 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s