Cerita Rumah

SOFT LENS, TAHUN KE-17

*photos by wikimedia.org

Tahun ini adalah tahun ke-17 saya memakai softlens, setelah 8 tahun sebelumnya berkutat dengan tebalnya kacamata.

Saya mulai memakai kacamata di kelas 3 SD. Awalnya bermula dari Mama yang melihat lumayan banyaknya kesalahan tulis saya di buku ulangan ataupun catatan. Tadinya Mama juga mengira itu cuma sekedar salah tulis, atau saya yang kurang teliti, bahkan beliau sempat mengira saya cuma ikut-ikutan anak tetangga yang memang suka menyipit-nyipitkan mata. Tapi untunglah Mama menindaklanjuti kecurigaannya, dan membawa saya ke dokter mata. Hasilnya, cukup mengejutkan, saya minus 3 di mata kanan, dan minus 1 di mata kiri.

Dokter bilang, ini bukan akibat perilaku buruk (dulu belum ada gadget kan?), tapi adalah cacat bawaan pada mata. Sinar yang jatuh tidak tepat pada tempat seharusnya, dan akan bertambah seiring bertambahnya tinggi badan saya. Jadi, akan berhenti di sekitar umur 18an. Dan benar saja, di kelas 2 SMA, minus saya sudah berada di angka yang cukup mencengangkan. Mata kanan minus 13, dan mata kiri minus 9.

Kacamata dengan lensa yang tebal membuat mata saya lelah, tidak leluasa bergerak, mata yang sudah sipit bawaan ini kian menjadi sipit, dan saya menjadi tidak percaya diri. Hingga akhirnya, seorang teman Papa, yang juga membuka toko kacamata, menyarankan untuk mencoba memakai softlens. Memang lebih ribet perawatanna, tapi dari segi kenyamanan, softlens jauh lebih menguntungkan. Papa dan Mama tadinya sangsi karena saya termasuk orang yang ceroboh, tapi akhirnya memilih untuk menyerahkan pilihan pada saya. Saya memakai soft lens. Tapi karena sudah sekian lama kacamata menjadi bagian dari diri saya, saya tetap memilih menggunakan kacamata, berbarengan dengan softlens. Tentu saja, kacamata dengan lensa netral. Dan karena lensa netral itulah, saya jadi kurang telaten menjaganya. Kacamata menjadi korban insiden brutal, sembarangan menaruh dan hilang entah kemana, kedudukan sampai patah, lensa yang pecah tertimpuk kelereng, bahkan pernah digigit-gigit anjing di rumah sahabat saya karena asal menaruh. Ah, kasihan kasihan kacamata saya.

Dan setelah 17 tahun ini saya menggunakan soft lens, puji Tuhan, saya tidak pernah menderita karena penggunaan soft lens, iritasi saja mungkin yang sesekali mendatangi. Banyak juga cerita yang mengerikan karena soft lens ini. Tetapi menurut saya, kebersihan dan kerajinan adalah aspek paling penting untuk pengguna soft lens. Apalagi soft lens minus tinggi, biasanya periodik penggunaan adalah tahunan, yang perlu perawatan super, tidak seperti soft lens harian atau mingguan yang bisa langsung pakai buang. Saya akan sedikit membagi pengalaman lewat beberapa poin berikut,

  1. Selalu cuci bersih tangan dengan sabun pencuci tangan sebelum membersihkan soft lens.

    Sabun yang sebaiknya digunakan adalah benar-benar sabun pencuci tangan, bukan sabun pencuci piring, sabun mandi, sabun colek, atau shampo. Kenapa? Karena jika bukan sabun pencuci tangan, biasanya ada residu lain yang menempel di tangan setelah tangan dibilas bersih. Contohnya adalah pelembab, wangi-wangian yang menyengat, yang bisa menempel pada soft lens ketika kita membersihkannya.

  1. Jangan malas melepas soft lens sebelum tidur malam.

    Terkadang saya pun malas sekali, apalagi kalau sudah terlalu mengantuk. Tapi, efek malas itu akan terasa diesok hari, yaitu bonus mata yang merah dan kering. Usahakan lepas soft lens sebelum tidur untuk benar-benar mengistirahatkan mata, memberikan ruang pada mata untuk lebih rileks setelah ditempeli soft lens seharian.

  2. Bersihkan tempat penyimpan soft lens dengan seksama.

    Selain tangan kita, tempat penyimpan soft lens juga sama penting dijaga kebersihannya. Kalau saya, setelah dipakai menyimpan soft lens semalaman, saya akan cuci dengan sabun pencuci tangan, bilas dengan air, lalu dibilas terakhir dengan cairan pembersih soft lens, lalu biarkan terbalik, begitu pun dengan penutupnya.

  3. Gunakan cairan pembersih soft lens dalam jangka 3 bulan setelah dibuka.

    Cairan soft lens adalah cairan steril, hanya bisa bertahan 3 bulan paling lama setelah dibuka. Hindari menyentuh dan mengotori daerah ujung botol, sehingga cairan di dalam tidak terkontaminasi kotoran dan debu. Selalu biarkan dalam keadaan tertutup.

  4. Usahakan liburkan mata dari soft lens minimal 1 hari dalam 1 bulan.

    Saya kadang bernostalgia menggunakan kacamata tebal, demi mengistirahatkan mata. Tapi jika tidak memungkinkan, saya hanya menunda jam pemakaian soft lens ke jam lebih siang, karena biasanya saya langsung memakai soft lens setelah saya bangun tidur.

Demikian pengalaman yang bisa saya bagi, kiranya boleh berguna untuk sahabat yang mengalami hal yang sama dengan saya. Saya cuma berharap cacat mata ini tidak menurun pada kedua anak saya.Ā 

Advertisements

6 thoughts on “SOFT LENS, TAHUN KE-17

    1. heheheh…aku nggal sempet mengalami minus 2,5 mbak šŸ™‚ langsung 3 pas ketauan…hehehheh
      Masih bersyukur masih bisa dibantu softlens n kacamata.
      terima kasih dah mampir yaaa

      Like

  1. Astagaaa! Itu ukuran minusnya @_@
    Aku jg dari kecil pakai kacamata, tapi “cuma” minus 1,5.
    Dan sampai skrg masih ngilu ngebayangin pakai softlens… šŸ˜„

    Like

    1. Hueueheheh…. lebih nyaman sih daripada kecemete, tapi ya lebih ribet emang..
      Cobain atuuhhh, pake softlens yang ada gambar2nyaaaaa..pasti Nana heboohhh..!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s