Parenting and Kids

Akui Saja

abbzTernyata benar yang orang bilang kalau punya anak lebih dari satu, dan mengurus sendiri, keluh kesah semasa anak baru satu tidak ada apa-apanya. Benar sekali. Teori yang kadang rasanya mudah sewaktu dibaca dulu, ketika praktek, entah kemana terbang bersama peluh serta emosi yang naik turun. Abby, 7 tahun, dan Nolan 4 bulan adalah anak-anak terkasih yang membuat saya benar-benar melek soal time juggling, si Kakak yang disiapkan untuk mandiri jauh sebelum kelahiran Nolan, ternyata masih saja butuh ditemani mandi, kadang masih minta disuapi, kadang berulah tanpa sebab, dan diwaktu yang sama sang Adik menangis menjerit-jerit minta susu langsung dari sumbernya.

Ketika Nolan ikut bangun bersama jam bangun Kakak yang baru mulai SD, dan saya harus menggendong bayi, sembari menyiapkan bekal sekolahnya. Teorinya, saya harus mendahulukan si Kakak, karena ia sudah lebih mengerti, dan beresiko merasa diabaikan jika saya terus-terusan menomorduakannya. Sedangkan dari yang saya baca, bayi juga bisa merasa diabaikan, dan katanya bisa berefek jangka panjang jika tangisnya tidak segera diredakan, sampai ke arah bisa tidak merasa percaya diri ketika dewasa nanti. Lalu, bagaimana dong?

Saya bersyukur sekali Mama saya tinggal di rumah sejak saya melahirkan, sembari Papa berobat jalan. Walaupun Mama lebih banyak membantu saya secara fisik, seperti menggendong Nolan ketika saya mandi, dan memasak, tapi urusan emosi ketika Kakak berulah, Mama memang tidak bisa membantu banyak. Ini urusan saya dan Abby. Dua hari yang lalu saya dada saya terasa penuh sekali, karena sepanjang hari terus berdebat dengan Abby. Mulai dari melempar pensil ketika saya ajak latihan dikte, melempar handuk ketika saya minta sudahan mandi, melanggar jam main keluar rumah yang biasanya selalu ia tepati, dan juga merengek meminta saya merubah peraturan jam tidur karena ada film yang ingin ditontonnya sebelum tidur. Hal-hal ini jarang sekali terjadi, Abby sejauh ini adalah anak yang bisa diajak kompromi, atau setidaknya tidak dalam dua hari berturut-turut seperti kemarin yang bisa membuat saya cuma diam, kesal sendiri, dan tidak lagi merespon apa-apa yang dibicarakannya. Ditambah lagi berulah sebelum pergi sekolah yang membuat saya saat itu sedang memegang sisir plastik pipih, mendaratkan pukulan di bokongnya. I lost it. Ini kali pertama saya memukulnya, dan sesak di dada tambah mengeriyap. Saya merasa bersalah dan menyesal sepanjang hari. Saya sempat bercerita kepada suami melalui BBM karena ia sedang di luar kota tentang tingkah Abby 2 hari belakangan, dan minta suami untuk bicara dengan Abby segera setelah ia pulang keesokan harinya, tapi saya belum cerita saya memukulnya pagi tadi.

Setelah mandi pagi, rasa gundah gulana bin durjana sudah kian menjadi, akhirnya saya bilang ke suami kalau saya memukul Abby. Ketika ia bertanya, kenapa, tumpahlah air mata yang membuat suami tambah bingung. Sambil sesenggukan bercerita tentang drama 2 hari kemarin, suami malah senyum-senyum. ‘Ya ampuunn, berantem sama Abby, malah emaknya yang nangis…‘. Akhirnya sambil sesenggukan dan berlinang air mata, saya berbagi beban yang saya rasakan dengannya. Dengan berbagi cerita dengannya saja, beban sudah hilang separuh, dan merasakan pelukan serta kata-kata penguatan darinya mengangkat semua sesak didada. Dan kesimpulan di akhir pembicaraan adalah suami akan bicara empat mata dengan Abby.

Saya merasa lega, bahagia, ringan, bersemangat, dan perasaan positif lainnya mengalir deras. Penyealan atas insiden pemukulan itu harus dibayar dengan permintaan maaf saya ke Abby, saya berjanji ke diri sendiri. Dan setelah suami bicara empat mata, Abby juga seperti mendapat suntikan energi positif. Lalu saya menarik beberapa kesimpulan dari kejadian ini,

  1. Menyingkirlah. Jika perasaan sudah mulai tidak terbendung, lebih baik menyingkir sejenak daripada menyesal seperti saya. Saya yakin, walaupun pemukulan dengan sisir yang tidak berapa keras itu tidak meninggalkan bekas di bokongnya, hal ini akan berbekas di jiwanya. Betapa ia merasa sedih sekali, betapa ia merasa terluka akibat saya tidak bisa mengontrol emosi saya.
  2. Ingatlah. Masa anak-anak hanya sekali dilewati, dan tidak pernah lagi terulang. Their childhood only come once in your life, so we better cherish and make it count
  3. Berbagilah. Buat saya berbagi cerita khususnya pada suami yang benar-benar paham kondisi dan situasi di rumah, benar-benar membantu. Jangan sok perkasa untuk memendam semua perasaan sendiri, walaupun terlihat sepele. Sekedar peluk atau cium dari suami membuat kita merasa kuat dan tidak sendiri.
  4. Saling meminta maaf dan berbaikan. Bicara berdua dengan anak dalam situasi yang kondusif, mencari sebab akibat kenapa semua bisa terjadi. Saling meminta maaf dan berbaikan, supaya membuat hati lebih ringan.

Menjadi orang tua bukanlah perkara mudah, tapi orang tua juga manusia yang tidak sempurna, bukan pahlawan super. Jadi, rasanya tidak apa-apa jika kita mengakui kesalahan, ini saja sudah langkah bagus untuk perubahan menjadi lebih baik. Bukankah begitu?
Home, 10-12 August 2015

Advertisements

6 thoughts on “Akui Saja

  1. hai mbak susan yang manis, senengnya ada mamah yang bisa bantuin jaga di rumah 🙂 Oiya memang sekecil apapun kekerasan fisik (semisal nyubit, meski dipantat) bisa terus membekas lho karena saya pernah ngalami sewaktu kecil 😦
    Salam kenal ya dan udah saya follow akun twiternya (@cputriarty). Salam sukses selalu

    Like

  2. Don’t feel so bad about yourself, san. Semua ibu melewati fase itu. Motherhood is a never ending learning process. Dikira kalau anak udah mandiri, kita bisa bebas? Nggak. Nanti akan ada lagi ujiannya. Jadi kalau kita merasa jadi ibu yg gak baik utk anak2 kita, kapan kita benar2 jadi ibu untuk mereka? Been there, not proud of it, but I embrace the experience. Cemunguud! :*

    Like

  3. huks, ikut merasakan kesedihan dan penyesalan atas terjadinya pemukulan sisir itu mak. emang gak ada ibu yang sempurna dan terbaik ya, kita cuma bisa mengusahakannya. Semangat ya mbak, semoga masa2 itu terlewati. saya yang baru punya anak baru umur 3 tahun kayaknya gak ada apa-apanya ini mah 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s