Free Thoughts

PERIHAL MINTA MAAF

HS

Di usia sekolah TK seperti yang sedang Abby jalani sekarang bukanlah tahap yang bebas masalah. Jiwa sosial, etika berteman, penyelesaian masalah, adalah hal yang termasuk diuji baik untuk sang anak sendiri, maupun untuk orang tua yang bersangkutan. Cara didik dan pola asuh dalam keluarga sudah sangat terlihat di diri anak di usia sekarang ini. Anak membawa kebiasaan dan apa yang ditanamkan di rumah ke sekolah, dan di sekolah juga berbagai pola asuh bertemu. Orang tua juga diharapkan menjadi lebih bijaksana untuk menghadapi hal-hal yang terjadi di sekolah pada anak mereka.

Ingin dianggap di kelompoknya, keisengan dalam bermain, atau bahkan berebut mainan bisa menjadi masalah serius untuk anak. Suatu kali Abby mengadu setelah pulang sekolah ada temannya yang meludahi dia, disebutnya nama si A. Saya mengkonfirmasi cerita itu ke guru, dan ternyata guru tidak mengetahui hal ini. Karena terjadi bukan di dalam kelas melainkan pada waktu istirahat. Saya dalam kondisi percaya anak saya, karena A menurut pengamatan saya adalah anak yang perlu perhatian ekstra (baca: nakal), dan satu-satunya laki-laki di kelas diantara 14 orang murid. Respon saya untuk Abby adalah supaya Abby menjaga jarak untuk tidak terlalu dekat kepada A, dan meyakinkan Abby kalau mungkin A tidak sengaja melakukan itu. Abby mengerti.

Beberapa waktu kemudian, datang lagi cerita pulang sekolah, sambil menangis ia bilang kalau A memukulnya. Dan saya hanya mengingatkan Abby untuk tidak terlalu dekat dengan A. Abby protes, karena menurutnya A yang mendatanginya. Sampai di rumah pun, ia masih menangis ketika mengadu kepada Papanya. Saya tidak mengkonfirmasi kejadian ini ke sekolah, saya hanya mengerti. Bukan cuma kepada Abby, anak A ini berlaku demikian. Dari cerita sesama orang tua, rupanya A juga pernah melakukan hal ini kepada anak lain.

Saya mengerti saja, sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Latar belakang keluarga A adalah jawabannya untuk saya. Saya tahu kalau A tidak lagi mempunyai ayah. Ia dan adiknya yang berusia 3 tahun diasuh oleh neneknya yang menurut saya adalah tipikal orang jaman dulu, bawel dan dalam beberapa kesempatan saya pernah mendengar ia bercerita kepada orang tua yang lain bahwa ia masih menerapkan pola memukul. Sedangkan ibu A adalah ibu bekerja, disetiap momen acara sekolah juga jarang terlihat, semua peran diambil alih oleh sang nenek. Dan saya hanya mengerti.

Dan tibalah di Jumat kemarin, pulang sekolah Abby tiba-tiba kabur dan mengajak saya segera pulang. Rupanya, ia ketakutan karena telah membuat A menangis. Gurunya bilang, Abby melempar mainan A karena tidak dipinjamkan hingga mainan itu rusak. Sampai rumah, saya berusaha menenangkan diri, untuk berusaha bicara dengan nada datar, mencoba mencari tahu cerita versi Abby. Saya tahu ia ketakutan dan merasa bersalah, sama seperti mimik yang biasa kalau ia melakukan sesuatu yang salah di rumah. Setelah berusaha mengorek cerita, saya beritahu Abby kalau apa yang dilakukannya adalah salah. Sepenuhnya salah. Sambil menangis ia berusaha membela diri, kalau ia hanya mau pinjam. Tapi tetap, apapun alasannya, merusak mainan teman adalah salah. Ia mengerti. Sampai di kesepakatan kalau hari Senin, saya akan menemaninya meminta maaf kepada A.

Senin pagi, sebelum berangkat, saya mengingatkan kembali dan Abby ok. Rupanya A dan kami datang bersamaan, seperti yang saya duga, sang nenek lebih dulu merepet, menguliahi saya dengan suara yang merdu di pagi hari. Dan saya pun menceritakan, bahwa Abby sudah tahu kalau ia salah, dan pagi ini Abby mau minta maaf kepada A. Abby mengulurkan tangannya dan bilang, “Maaf ya A, kemarin aku rusakin mainan kamu”

Oh, saya bangga sekali mendengar itu. Sementara sang nenek masih bicara panjang lebar, dan saya pun ikut meminta maaf kepada dia atas apa yang dilakukan Abby. Kasus selesai..

Saya tidak menganggap masalah ini adalah masalah sepele. Anak harus tahu dan mengerti jika ia salah. Saya menerapkan sistem reward and consequences di rumah. Buku reward masih terus berlanjut, dan konsekuensi tetap dijalankan. Yang paling sering adalah hilangnya jam nonton tv jika ia berbuat salah. Sejauh ini, sistem itu bekerja. Tentu saja dengan perjanjian yang telah kami sepakati bersama.

It sure is a challenging matter, but I will put my best to it.

Rumah, 14 April 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s