Cerita Rumah

CHILD PREDATORS

ts

Mengapa.

Menjadi kata dengan huruf kapital beserta banyak tanda tanya di belakangnya, tercetak dengan huruf tebal dan juga warna merah, terpampang dengan molek di pikiran saya. Tidak habis akal sehat membedah dan menelaah, apa yang terjadi pada otak, hati, dan jiwa seseorang yang tega-teganya melakukan kejahatan seksual terhadap anak-anak. Terlepas dari masalah kejiwaan, otak yang kurang, atau juga tak punya hati, predator seperti ini tak layak disebut sebagai manusia. Saya mengerti bahwa pelaku juga mungkin dulunya adalah korban, tapi saya tetap tak setuju itu dijadikan alasan permakluman atas tindakannya di masa sekarang. Sungguh amat miris mendengarnya. Tak terbayang betapa butanya hati dan rasa tatkala ia melimpahkan dendam masa lalu kepada orang lain (baca: anak-anak), dengan tujuan balas dendam, atau cuma sekedar pelampiasan nafsu bejatnya.

Belakangan berita kejahatan seksual menjadi seperti musim buah yang semua cerita muncul berbarengan, seperti jamur di musim penghujan. Semua berita berkutat tentang kejahatan ini. Tak kuasa rasanya hati menonton berita ataupun membaca tajuk yang memberikan judul mengerikan tentang hal ini. Kepala, mata, telinga menjadi begitu pekak dan jengah tak kepalang membayangkan betapa jahatnya pelaku.

Sebagai orang tua yang mempunyai anak balita, saya merasa begitu terhenyak, terhempas, terperangah, sama seperti orang tua normal lainnya, bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi di dunia sekarang ini? Sebegitu jahatnya sudahkah orang di muka bumi ini? Tidak ada lagikah hati nurani? Sebegitu tidak berharganyakah anak-anak dimata pelaku? Secara sadar saya tahu jawabannya tidaklah sesederhana ya atau tidak. Perlu dilihat dari berbagai sudut pandang yang adil. Mungkin pelaku sadar bahwa yang dilakukannya salah, tapi ia tidak bisa menghentikan hasrat dan tindakan kejinya, dengan alasan psikologis apapun, saya sebagai ibu tetap tidak bisa memakluminya. Kalau ia tahu yang ia lakukan salah, lalu, kenapa tidak mencari pertolongan? Kenapa tidak membuka dan mengakui kalau diri bermasalah dan mencari jalan keluar yang baik sehingga tidak merusak jiwa orang lain?

Sudah banyak tips dan cara yang diberikan oleh forum parenting dan anak untuk mencoba mengantisipasi dan mencegah hal buruk ini terjadi pada keluarga kita. Kita jadi lebih bisa terbuka, memaksa diri untuk lebih dekat, meluangkan lebih banyak waktu, untuk lebih banyak mensyukuri bahwa anak-anak kita adalah anak-anak kita. Ya, bersyukur. Dunia kejam di luar sana tidak sepenuhnya bisa kita kontrol, banyak hal yang tidak bisa kita hindari, dan kita juga tidak bisa mengisolasi diri dari dunia. Maka, pertolongan dan benteng terakhir tetap saja meminta pertolongan dari Sang Pemilik Hidup, meminta Ia tetap menjaga anak-anak kita ketika mata dan tubuh kita tidak bisa hadir mendampinginya setiap saat, meminta kuasa tangan-Nya untuk tetap menjaga anak-anak kita dari segala bahaya. Terus dan terus doakan anak-anak kita, fellow parents…

Home, May 14, 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s