Cerita Rumah · Relationship

Perjalanan Panjang bernama ‘Pernikahan’

Image

Terlihat cuplikan di televisi, dengan tema yang sedang naik daun. Perceraian. Ya, keluar dari ikatan pernikahan. Mungkin jika yang menikah baru menikah beberapa tahun, kita akan merasa lebih maklum, walaupun sebenarnya tidak boleh maklum. Tapi ini adalah pasangan menikah dengan jumlah tahun yang bukan sedikit, bahkan salah satu pasangan sudah memiliki cucu. Kaum selebritis memang menjadi komoditas untuk selalu dipergunjingkan, tapi saya disini saya akan melepaskan diri dari stigma menilai ataupun menghakimi. Saya mau berusaha melihat dari sudut pandang seorang perempuan yang juga adalah seorang istri dan ibu.

Mungkin pandangan saya hanya sempit, secara saya memang hanya seorang ibu rumah tangga penuh waktu. Saya tidak habis berpikir dan sedikitpun tidak mau berandai-andai, ataupun menempatkan kaki saya di sepatu para pasangan yang memilih berpisah. Diusia pernikahan kami yang baru akan memasuki tahun keenam, rasanya mungkin memang tidak kredibel saya menuangkan pikiran seperti ini. Tapi saya yakin, esensi pernikahan, seharusnya adalah sama, di tahun kelima, kesepuluh, keduapuluh lima, ataupun kesekian. Pernikahan seharusnya menonjolkan hal-hal baik pada seorang individu, karena disinilah seluruh daya aktualisasi diri berada dipuncaknya. Menjadikan keluarga sebagai alasan kuat untuk terus bekerja dengan baik dan jujur, menjadikan rumah sebagai tempat terindah dibandingkan tempat manapun, menjadikan suami atau istri sebagai ‘rekan’ yang saling melengkapi, dan juga menjadikan anak sebagai investasi tak ternilai yang harus seutuhnya dijaga segenap jiwa.

Hal-hal tersebut memang terdengar teoritis, tapi mari kita berpikir lebih dalam. Masalah apapun bisa dihadapi jika kita sebagai suami istri mau lebih merendahkan diri, menempatkan ‘diri’ sebagai nomor dua, dan ‘kita’ sebagai nomor satu. Memang terdengar sulit, tapi bukankah sulit juga menjadi bagian janji pernikahan dulu? Ketrampilan berkomunikasi mutlak untuk dipelajari, dan seiring proses bertambahnya umur pernikahan, seharusnya kita bisa melatihnya.

Sebuah film berjudul ‘Hope Springs’ yang diperankan oleh Tommy Lee Jones dan Merryl Streep membuat saya terkesan, kisah pernikahan pasangan yang sudah tidak lagi muda seakan menjadi potret masa depan yang mungkin akan menjadi familiar buat kebanyakan pasangan. Di masa ketika anak-anak sudah mapan dan mereka kembali berdua saja dirumah, dengan segala hal yang hanya menjadi rutinitas, membuat pernikahan menjadi sangat membosankan. Mereka tidur di  kamar yang berbeda, tidak ada lagi romantisme, atau bahkan percikan. Akhirnya, sang istri secara tidak sengaja menemukan seorang psikolog yang khusus membantu masalah pernikahan  seperti ini. Sudah banyak kliennya yang sukses mereguk kembali kemesraan berumah tangga, bukan hanya sekedar menjadi teman serumah. Kisah perjuangan mereka akhirnya berbuah manis, walaupun bukan karena bantuan psikolog tersebut semata.

Ini buat saya film yang sangat menyentuh, kisah cinta sejati memang bukan hanya sekedar masalah berapa lama waktu yang dilewati bersama, tapi jauh lebih kepada kualitas hidup bersama itu sendiri. Dengan maraknya berita perceraian belakangan ini, membuat saya prihatin sekaligus bersemangat. Prihatin dalam rangka karena saya tidak bisa membayangkan rasanya berpisah ataupun efek setelahnya. Bersemangat karena hal-hal ini semoga mengingatkan saya ketika pernikahan berada diputaran roda hidup terendah, supaya untuk tidak mudah menyerah.

Teriring doa untuk semua pasangan menikah di mana pun, semoga hanya maut yang akan memisahkan..

Home, 8-16 Mei 2013

Advertisements

4 thoughts on “Perjalanan Panjang bernama ‘Pernikahan’

    1. Hi terima kasih sudah mampir. Saya sudah mampir di blog Anda juga.. Interesting what you’ve done there…
      Yep, marriage is worth fighting for!

      Like

  1. Inspiring thoughts. Noted banget untuk kalimat berikut mba “Masalah apapun bisa dihadapi jika kita sebagai suami istri mau lebih merendahkan diri, menempatkan ‘diri’ sebagai nomor dua, dan ‘kita’ sebagai nomor satu.”. Btw, salam kenal ya….saya dan pasangan rencana menikah di tahun ini, semoga bisa selalu menomorsatukan “kita” diatas saya atau dia….

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s